1.
Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan tekanan
darah sistole di atas 140 mmhg dan tekanan darah diastole di atas 90 mmhg
(brunner and suddarth, 2004). Menurut WHO (1978), hipertensi adalah adanya
peningkatan tekanan darah tinggi di atas 160 sistole dan diastole 95 mmhg.
Pengertian lain, hipertensi merupakan
suatu keaddan yang terjadi peningkatan tekanan drah sistolik 140 mmhg atau
lebih dan tekanan darah distolik 90 mmhg atau lebih (Barbara Hearrison, 1997).
Menurut The sixth Report of the joint National Committee on
Prevention,detection, evolution and Treatment of high blood preassure
berpendapat seseorang terkena hipertensi
jika tekanan darah sistole lebih dari 140 mmhg atau tekanan darah
diastole lebih dari 90 mmhg.
Kaplan (1985) membedakan hipertensi
berdasarkan usia dan jenis kelamin sebagai berikut.
a.
Pria usia < 45 tahun : hipertensi
jika TD : lebih dari 130/90 mmHg.
b.
Pria usia > 45 tahun : hipertensi
jika TD : diatas 145/95 mmHg
c.
Wanita : hipertensi jika > 160/90
mmHg
Sementara pengertian krisis hipertensi
adalah peningkatan tekanan darah berat secara tiba -tiba dengan tekanan darah sistole lebih dari 200 mmHg dan tekanan
darah diastole lebih dari 140 mmHg.
2. Klasifikasi Berat Ringan Hipertensi
Kategori
|
Tekanan darah
Sistole (mmHg)
|
Tekanan
darah
Diastole
(mmHg)
|
Stadium 1 (ringan)
|
140-159
|
90-99
|
Stadium 2 (sedang)
|
160-179
|
100-109
|
Stadium 3 (berat)
|
180-209
|
110-119
|
Stadium 4 (
sangat
Berat)
|
≥ 210
|
≥ 120
|
3.
Angka
kejadian
Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi
primer atau hipertensi yang diketahui penyebabnya dan hipertensi sekunder yang
tidak diketahui penyebabnya. Menurut Boedhi Darmojo, sebnayak 1,8% sampai
dengan 28,6% orang usia lebih dari 20 tahun sudah mengalami hipertensi.
4.
Etiologi
a. Perokok
Merokok
yang menahun dapat merusak endoteal arteri dan nikotin menurunkan HDL yang baik
untuk tubuh manusia.
b. Obesitas
Dapat
meningkat LDL yang buruk untuk tubuh manusia pencetus asteroskoliosis
c. Alkoholisme.
Alkoholyang
dapat merusak hepar dan sifat alcohol mengikat cair mempengaruhi viskositas
darah mempengaruhi tekanan darah.
d. Stres
Merangsang
sistem saraf simpatis mengeluarkan adrenalin yang berpengaruh terhadap kerja
jantung
e. Konsumsi
garam
Garam
mempengaruhi viskoditas darah dan memperberat kerja ginjal yang mengeluarkan
rennin angiotensin yang dapat meningkatkan tekanan darah.
5.
Patofisilogi
Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi
pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda
spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks
dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang
bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik
ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap
rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa
terjadi.
6.
Gejala/Manifestasi
klinis
Tanda
dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
a.
Tidak ada gejala
Tidak
ada gejala spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah,
selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti
hipertensi artelial tidak pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b.
Gejala yang lazim
Sering
dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala
dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai
kebanyakan pasien yang mencari perteolo0ngan medis.
Beberapa
pasien yang menderita hipertensi yaitu:
a.
Mengeluh sakit kepala, pusing e.
Mual
b.
Lemas, keleleahan f.
Muntah
c.
Sesak nafas g. Epistaksis
d.
Gelisah h. kesadaran menurun
a.
Transien Iskemik attack
b.
Stroke/CVA
c.
Gagal jantung
d.
Gagal ginjal
e.
Infark Miokard
f.
Distrimia
8. Pemeriksaan penunjang
1.
Pemeriksaan penunjang
Ø
Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari
sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasi faktor
resiko seperti hipokoagulitas,anemia.
Ø
BUN/kreatinin : memberikan informasi
tentang perfusi/fungsi ginjal.
Ø
Glukosa : Hiperglikemi (DM adalah
pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketolakomin.
Ø
Urinalisa : darah, protein, glukosa,
mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
2.
CT- SCAN : mengkaji adanya tumor
cerebral, encolopati.
3.
EKG : Dapat menunjukan pola regangan,
dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit
jantung hipertensi.
4.
IUP : mengidentifikasikan penyebab
hipertensi seperti : Btu ginjal, perbaikan ginjal.
5.
Photo dada : Menunjukan destruksi
klasifikasi pada area katup, pembesaran jantung.
9. Diagnosa keperawatan
a.
Resiko penurunan perfusi jaringan
jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi
·
Intervensi keperawatan.
v Pertahankan
tirah baring dengan kepala lebih tinggi.
v Kaji
tekanan darah secara kontinyu.
v Kaji
intake dan cairan halurine urine.
v Pantau
elektrolit BUN, kreatinin sesuai indukasi.
v Jika
mual muntah anjurkan puasa.
v Observasi
dan batasi cairan .
v Ambulasi
pasien sesuai kemampuan dan hindari terjadinya kelelahan.
v Kolaborasi
pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi.
·
Kriteria hasil (yang perlu dievaluasi)
v Perfusi
jaringan menunjukan adanya perbaikan ( TD dalam batas normal, nyeri kepala
hilang, hasil laboratorium dalam batas normal, out put urine 30ml/menit)
b.
Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
·
Batasan karakteristik
Pengkajian
focus dan yang perlu diobservasi untuk penegakan diagnosis keperawatan.
v Perubahan
selera makan
v Perubahan
tekanan darah
v Perubahan
frekuensi jantung
v Perubahan
frekuensi pernapasan
v Verbal
dan pasien nyeri kepala
v Mengekpresikan
perilaku gelisah
v Hambatan
proses berfikir
v Gangguan
tidur
v Perubahan
posisi dalam menghindari nyeri
v Pupil
dilatasi
v Focus
pada diri sendiri
·
Intervensi keperawatan
v Pertahankan
tirah baring
v Beri
lingkungan yang tenang
v Batasi
aktivitas yang berlebihan
v Hindarkan dan ajurkan supaya tidak merokok
v Beri
posisi yang nyaman
v Ajarkan
dan latih teknik relaksasi
v Cegah
untuk tidak terjadi konstipasi
· Kriteria
hasil (yang perlu dievaluasi)
v Pasien
tampak nyaman dan nyeri kepala hilang
Daftar pustaka
BUKU AJAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
I : Dengan
diagnosa NANDA Internasional/ Awan Hariyanto, S.Kep.Ns.,dan M.Kes. Rini
sulistyowati, SST.,M. Kes.-jogajakarta: Ar-Ruzz Media, 2015
ASUHAN
KEPERAWATAN BERDASARKAN
DIAGNOSA MEDIS & NANDA NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 2: 2015

