Senin, 22 Oktober 2018

.
ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI



1.      Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistole di atas 140 mmhg dan tekanan darah diastole di atas 90 mmhg (brunner and suddarth, 2004). Menurut WHO (1978), hipertensi adalah adanya peningkatan tekanan darah tinggi di atas 160 sistole dan diastole 95 mmhg.
Pengertian lain, hipertensi merupakan suatu keaddan yang terjadi peningkatan tekanan drah sistolik 140 mmhg atau lebih dan tekanan darah distolik 90 mmhg atau lebih (Barbara Hearrison, 1997).
Menurut The sixth Report of the joint National Committee on Prevention,detection, evolution and Treatment of high blood preassure berpendapat seseorang terkena hipertensi  jika tekanan darah sistole lebih dari 140 mmhg atau tekanan darah diastole lebih dari 90 mmhg.  
Kaplan (1985) membedakan hipertensi berdasarkan usia dan jenis kelamin sebagai berikut.
a.         Pria usia < 45 tahun : hipertensi jika TD : lebih dari 130/90 mmHg.
b.        Pria usia > 45 tahun : hipertensi jika TD : diatas 145/95 mmHg
c.         Wanita : hipertensi jika > 160/90 mmHg
Sementara pengertian krisis hipertensi adalah peningkatan tekanan darah berat secara tiba -tiba dengan tekanan  darah sistole lebih dari 200 mmHg dan tekanan darah diastole lebih dari 140 mmHg.




2.      Klasifikasi Berat Ringan Hipertensi
Kategori
Tekanan darah
Sistole (mmHg)
Tekanan darah
Diastole (mmHg)
Stadium 1 (ringan)
140-159
90-99
Stadium 2 (sedang)
160-179
100-109
Stadium 3 (berat)
180-209
110-119
Stadium 4 ( sangat
Berat)
≥ 210
≥ 120

3.         Angka kejadian
Hipertensi dibedakan menjadi hipertensi primer atau hipertensi yang diketahui penyebabnya dan hipertensi sekunder yang tidak diketahui penyebabnya. Menurut Boedhi Darmojo, sebnayak 1,8% sampai dengan 28,6% orang usia lebih dari 20 tahun sudah mengalami hipertensi.
4.         Etiologi

a.       Perokok
Merokok yang menahun dapat merusak endoteal arteri dan nikotin menurunkan HDL yang baik untuk tubuh manusia.
b.      Obesitas
Dapat meningkat LDL yang buruk untuk tubuh manusia pencetus asteroskoliosis
c.       Alkoholisme.
Alkoholyang dapat merusak hepar dan sifat alcohol mengikat cair mempengaruhi viskositas darah mempengaruhi tekanan darah.
d.      Stres
Merangsang sistem saraf simpatis mengeluarkan adrenalin yang berpengaruh terhadap kerja jantung
e.       Konsumsi garam
Garam mempengaruhi viskoditas darah dan memperberat kerja ginjal yang mengeluarkan rennin angiotensin yang dapat meningkatkan tekanan darah.
5.         Patofisilogi
Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

6.         Gejala/Manifestasi klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
a.    Tidak ada gejala
Tidak ada gejala spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi artelial tidak pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b.    Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari perteolo0ngan medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu:
a.                    Mengeluh sakit kepala, pusing         e.  Mual
b.                   Lemas, keleleahan                            f.  Muntah
c.                    Sesak nafas                                       g.  Epistaksis
d.                   Gelisah                                             h.  kesadaran menurun


7.    Komplikasi



a.    Transien Iskemik attack
b.    Stroke/CVA                           
c.    Gagal jantung
d.   Gagal ginjal
e.    Infark Miokard
f.     Distrimia

8.    Pemeriksaan penunjang
1.      Pemeriksaan penunjang
Ø  Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasi faktor resiko  seperti hipokoagulitas,anemia.
Ø  BUN/kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
Ø  Glukosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketolakomin.
Ø  Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan ada DM.
2.    CT- SCAN : mengkaji adanya tumor cerebral, encolopati.
3.    EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
4.    IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Btu ginjal, perbaikan ginjal.
5.    Photo dada : Menunjukan destruksi klasifikasi pada area katup, pembesaran jantung.


9.    Diagnosa keperawatan
a.    Resiko penurunan perfusi jaringan jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi
·      Intervensi keperawatan.
v  Pertahankan tirah baring dengan kepala lebih tinggi.
v  Kaji tekanan darah secara kontinyu.
v  Kaji intake dan cairan halurine urine.
v  Pantau elektrolit BUN, kreatinin sesuai indukasi.
v  Jika mual muntah anjurkan puasa.
v  Observasi dan batasi cairan .
v  Ambulasi pasien sesuai kemampuan dan hindari terjadinya kelelahan.
v  Kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai indikasi.
·      Kriteria hasil (yang perlu dievaluasi)
v  Perfusi jaringan menunjukan adanya perbaikan ( TD dalam batas normal, nyeri kepala hilang, hasil laboratorium dalam batas normal, out put urine 30ml/menit)
b.    Nyeri akut berhubungan  dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
·      Batasan karakteristik
Pengkajian focus dan yang perlu diobservasi untuk penegakan diagnosis keperawatan.
v  Perubahan selera makan
v  Perubahan tekanan darah
v  Perubahan frekuensi jantung
v  Perubahan frekuensi pernapasan
v  Verbal dan pasien nyeri kepala
v  Mengekpresikan perilaku gelisah
v  Hambatan proses berfikir
v  Gangguan tidur
v  Perubahan posisi dalam menghindari nyeri
v  Pupil dilatasi
v  Focus pada diri sendiri
·      Intervensi keperawatan
v  Pertahankan tirah baring
v  Beri lingkungan yang tenang
v  Batasi aktivitas yang berlebihan
v  Hindarkan  dan ajurkan supaya tidak merokok
v  Beri posisi yang nyaman
v  Ajarkan dan latih teknik relaksasi
v  Cegah untuk tidak terjadi konstipasi
·      Kriteria hasil (yang perlu dievaluasi)
v  Pasien tampak nyaman dan nyeri kepala hilang

 Daftar pustaka
BUKU AJAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I : Dengan diagnosa NANDA Internasional/ Awan Hariyanto, S.Kep.Ns.,dan M.Kes. Rini sulistyowati, SST.,M. Kes.-jogajakarta: Ar-Ruzz Media, 2015

ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS & NANDA NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 2: 2015






. ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI 1.       Pengertian Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistole di atas 140 mmhg dan tek...